Harapan Baru dari PAUD Alam Islam Bukit Pedas

Harapan Baru dari PAUD Alam Islam Bukit Pedas
PAUD Saibas (Foto: Fuji Rachman).

Sahabat Keluarga - Cahaya mentari menyapa hari yang cerah pagi itu di PAUD Alam Islam Bukit Pedas Desa Cot Paya Kemukiman Cot Keueng, Aceh Besar. Tak hanya mengantarkan sekolah, orangtua pun berinteraksi dengan guru dan anak sebelum pelajaran dimulai. Konsep sekolah alam yang dikembangkan membuat anak bisa berekspresi dengan lepas dan bermain riang gembira. Sekolah yang terletak kurang lebih 20 km dari Banda Aceh ini memiliki siswa 30. Di umur yang masih menginjak 3 tahun, sekolah alam ini terus berbenah. Tak hanya infrastruknya tetapi juga cara mendidik. ”Meski terletak di kabupaten, kami ingin kualitas yang kami berikan di PAUD Alam Saibas tidak kalah dengan sekolah-sekolah yang ada di kota,” kata Mayka Morina, Kepala Sekolah PAUD Alam Saibas. ”Awal Saibas berdiri, siswa kami hanya 5 orang. Alhamdulillah di tahun ketiga bisa mencapai 30,” tambah Mayka. Mayka mengakui, awalnya banyak orang yang mempertanyakan keputusan membuka sekolah alam di luar kota. ”Banyak yang heran dan bertanya-tanya, kenapa bikin sekolah alam di kampung? Bukankah anak kampung sudah terbiasa di alam?” ungkapnya. Pertanyaan itu sering muncul diawal-awal berdirinya PAUD Saibas. Tetapi dengan berjalannya waktu, lambat laun pemahaman tentang sekolah alam mulai bisa di terima oleh masyarakat sekitar.

Sekolah alam bukanlah sekolah yang proses belajarnya selalu di luar kelas. Akan tetapi proses belajar mengajarnya memanfaatkan potensi yang ada di dalam lingkungan sekolah. Hal ini sesuai metode belajar bersama alam. Siswa bisa belajar pengalaman dari orangtua, teman, guru, atau siapapun yang menjadi sumber belajar. Dalam seminggu siswa masuk 6 hari. Akan tetapi ada satu hari tertentu siswa diliburkan. Hari itu digunakan oleh guru untuk meng-upgrade kemampuan dan juga membuat perencanaan program di bulan berikutnya. Selain itu, guru juga mengomunikasikan program apa saja yang akan dikembangkan. Bukan hanya memberikan pengumuman tetapi juga membuka ruang diskusi bersama untuk mendengarkan masukan dari orangtua terkait program yang telah disusun. ”Kami ingin antara guru dan orangtua tidak ada jarak. Orangtua adalah pendidik yang pertama dan guru membantu orangtua dalam mempersiapkan anak-anaknya menjadi orang yang sukses. Jadi orangtua harus benar-benar terlibat dalam proses mendidik anak,” imbuh Mayka.  Tak sedikit orangtua siswa yang mengapresiasi terobosan yang dilakukan PAUD Alam Saibas. Inovasi yang dikembangkan tidak kalah dengan PAUD-PAUD di perkotaan. ”Saya terkejut ada sekolah disini yang kualitasnya menyerupai di Banda Aceh. Kebetulan saya aslinya dari sana. Sangat senang bisa menyekolahkan anak kami di sini,” kata M Nasir yang juga Kepala Desa di Lambunot Tanoh, Aceh Besar. Setiap bulan ada dua hari Sabtu yang diisi dengan kegiatan parenting untuk orangtua. Hebatnya di PAUD Alam Saibas untuk mengumpulkan orangtua bukan menjadi masalah. ”Alhamdulillah orangtua sangat care,” tambah ibu kepala sekolah. Meski berlokasi di bekas daerah konflik Aceh di Bukit Pedas, Desa Cot Paya Kemukiman Cot Keueng, Aceh Besar tak menyurutkan nyali tenaga pendidik PAUD Saibas untuk mencoba memberi warna lain dan berinovasi dalam pengembangan pendidikan yang melibatkan orangtua dan dengan metode sekolah alam. ”Konflik telah usai, kapan lagi kalau tidak sekarang untuk memajukan pendidikan di sini,” ucap tegas Kabid PAUD dan PNF Disdikbud Aceh Besar Mulyana. Gernas Baku Membuka Hati Kami Ayah-Bunda, bacakan aku buku. Secuil lirik lagu Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku yang masih nyaring terdegar. Gerakan yang dimulai 5 Mei 2018 itu telah menembus pelosok nusantara. Salah satunya di PAUD Alam Saibas. Gernas Baku mendapat respons positif dikalangan orangtua maupun pagiat PAUD. Karena dengan program ini tercipta interaksi antara orangtua dan anak. ”Setiap Rabu kita punya program literasi pojok baca bersama anak-anak. Sedangkan untuk orangtuanya kita lakukan sebulan sekali. Orangtua membacakan buku di sekolah selanjutnya orangtua dipinjami buku untuk bercerita di rumah,” terang Mayka. Tujuan dari Gernas Baku bukanlah agar anak bisa membaca. Tetapi mendekatkan orangtua dan anak untuk saling berinteraksi. Agar anak merasa nyaman dengan kedekatan dengan orangtua. Para orangtua pun menyambutnya dengan antusias.

”Program Gernas Baku telah menyadarkan kami akan pentingnya berinteraksi dengan anak. Dengan membacakan buku saya menjadi tahu akan kemampuan anak saya dan juga saya merasa dekat anak,” kata Syahril salah satu orangtua dari murid di PAUD Alam Saibas. Dengan semakin tahunya orangtua akan literasi baca tulis dukungan ke anak-anaknya untuk belajar semakin tinggi. ”Orangtua yang awalnya kurang care terhadap buku, sejak acara Gernas Baku kemarin setiap kegiatan terkait membaca para orangtua mendukung kita,” ungkap Mayka. Pendidikan Keluarga Disambut Antusias Dalam kesempatan lain, Mulyana mengatakan bahwa program Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga mendapat respons yang positif di Kabupaten Aceh Besar. Sejak tahun 2018 program pelibatan keluarga mulai dikenalkan. ”Kita sudah sosialisasikan ke 42 lembaga, tetapi ternyata ada lembaga lain yang minta mendapatkan program ini. Antusiasnya sangat tinggi, ada 10 lembaga yang kita rencakan mendapat tambahan untuk mendapat sosialisasi,” ungkapnya. ”Sebenarnya di Aceh, khususnya Aceh Besar pelibatan keluarga itu sudah dilakukan. Dengan adanya program Bindikkel kita mengupgade lagi kemampuan kita terhadap pelibatan keluarga,” tambah Mulyana.

Tak hanya di PAUD, pendidikan keluarga juga dikenalkan di Pendidikan Nonformal. ”Untuk di PAUD kita menjalankan kelas parenting. Sedangkan di PNF kita mengumpulkan orangtua saat pertama kali peserta didik masuk. Dengan mengumpulkan orangtua diharapkan orangtua aktif terlibat dalam memotivasi dan pengasuhan anak-anaknya,” jelas Mulyana.  Dinas Pendidikan bekerjasama dengan Dinas Dayah juga menggelontorkan program 1 desa 1 hafis, dan 1 keluarga 1 sarjana. Diharapkan keluarga terlibat aktif dalam menyukseskan program-program ini. Sehingga ke depan semoga Pendidikan keluarga bisa semakin membumi di daerah-daerah di seluruh Indonesia yang memiliki ke ciri khas dan kekuatannya masing-masing. Dhoni Nurcahyo.

Komentar

Loading...