Pelibatan Keluarga dan Masyarakat sebagai Upaya Penguatan Pendidikan pada Satuan Pendidikan

Pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih menjadi sorotan dunia. Negeri yang dikenal dengan kekayaan alam yang melimpah ini belum mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Masalah-masalah sosial masih mewarnai kehidupan anak bangsa, seperti menyontek, bolos sekolah, tawuran, penggunaan obat terlarang, tindakan asusila, pencurian, dan lain sebagainya. Menengok fenomena tersebut, siapa yang harus bertanggung jawab?

Di era modern seperti sekarang ini, masyarakat kota lebih mementingkan  kebutuhan finansial anak dibandingkan pendidikannya. Padahal, perkembangan pendidikan sangat penting untuk masa depan anak. Hal serupa juga terjadi pada masyarakat desa. Kebanyakan orang tua terkesan abai terhadap pendidikan anaknya. Kondisi tersebut disebabkan ketidakpahaman keluarga dan masyarakat terhadap pentingnya peran keluarga dan masyarakat terhadap dunia pendidikan. Orang tua sebagai orang terdekat seharusnya juga memperhatikan asupan pengetahuan anak, mendampingi mereka belajar, dan mengawal pergaulan anak agar tidak terjerumus pada lingkungan yang tidak baik. 

 Jalannya proses pendidikan tidak lepas dari peran tri pusat pendidikan, yaitu keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. Secara umum, ada dua peran inti keluarga dan masyarakat yang berlandaskan konstitusi. Pertama, peran keluarga dalam pendidikan anak pada satuan pendidikan sesuai dengan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan. Pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan bertujuan untuk meningkatkan tanggung jawab dan kepedulian keluarga terhadap pendidikan anak.

Keluarga merupakan fondasi utama yang berperan dalam pembentukan karakter anak.  Pembentukan karakter awal dimulai dalam keluarga. Hasil didikan dalam keluarga kemudian digunakan anak sebagai bekal untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah. Orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak menjadi guru sekaligus teladan bagi anak-anak. Disamping sebagai pembentuk utama karakter anak, orang tua juga harus melibatkan diri pada lembaga pendidikan sekolah. Keterlibatan orang tua pada lembaga pendidikan memberikan banyak manfaat, di antaranya dapat memahami tahap perkembangan dan kesiapan belajar anak, dapat mengetahui kemajuan pengetahuan anak, dapat memberikan masukan untuk kemajuan sekolah, dan dapat mengetahui pembiasaan positif yang dilakukan anak di sekolah sehingga dapat membiasakannya di rumah.

Kedua, peran masyarakat sesuai Permendikbud Nomor 75 tahun 2016 tentang Komite Sekolah. Selain keluarga, masyarakat juga memiliki tanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Kontribusi masyarakat terhadap satuan pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan bergabung pada lembaga komite sekolah.

Berdasarkan pasal 3 Permendikbud Nomor 75 tahun 2016, masyarakat yang bergabung dalam komite berperan dalam menyukseskan  pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan,  mengawasi pelayanan pendidikan di sekolah,  dan menampung aspirasi yang disampaikan oleh orang tua/ wali  dan masyarakat untuk ditindaklanjuti.  Melalui lembaga komite sekolah, masyarakat dapat membantu jalannya roda pendidikan di sekolah. Keluarga dan masyarakat harus bekerja sama dengan satuan pendidikan dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas guna menghasilkan generasi Indonesia yang gemilang.

Sebagai agen perubahan bangsa, marilah sama-sama kita tingkatkan kepedulian kita terhadap pendidikan. Mari kita hapus anggapan bahwa pendidikan hanya menjadi tanggung jawab guru karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bersinergi agar pendidikan dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Tanpa kerja sama yang baik antar tri pusat pendidikan, esensi dari penyelenggaraan pendidikan hanya menjadi ilusi belaka. Pendidikan hanya menjadi label semata. Hasil yang diharapkan dari proses pendidikan tidak akan pernah tercapai secara maksimal.

Komentar

Loading...